Rabu, 2009 Januari 14

Perang, Penghancuran Peradaban yang Terkutuk




























Kita hampir tak bisa berucap lagi soal perang. Semuanya pilu, tragis, sadis. Sejenak kita mengenang, atau bahkan luka yang tak terlupakan, penderitaan yang tak terperikan, tapi cobalah pandang dari dekat perang itu. Tatap Israel Vs Palestina dengan mata hati, di sini. Panggilan Kemanusiaan akah hadir. Bahkan, hati anda akan runtuh dengan seolah-olah merasakan derita perang yang menimpa saudara kita.
Di sini saya ditampilkan foto-foto perang yang saya unduh dari www.reuters.com.


Baca selengkapnya...

Kamis, 2009 Januari 08

Palestina Berdarah

Oleh Musyafak

Palestina berdarah-darah. Bongkahan-bongkahan asa kedamaian runtuh satu-satu oleh deru bedil, dentuman bom. Satu demi satu krisis kemanusiaan tumbuh. Bertubi-tubi serangan Israel sejak 27 Desember 2008 menambah kelam perdamaian dunia. Menambah daftar panjang perselisihan bumi Islam-Yahudi itu—meski kini konflik itu bukan atas nama agama.

"Dari sudut manapun anda memandang, krisis kemanusiaan sedang terjadi, bahkan lebih buruk dari itu," kata Maxwell Gaylard, Koordinator Bantuan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Palestina.
Ngeri memang, menyaksikan Jalur Gaza, Palestina, yang "dirombak" habis oleh kekuatan senjata. Di sana tak ada lagi yang tumbuh. Semuanya terbenam.
Gedung terbenam ke dasar kaki, rata dengan tanah. Puing-puing yang tersisa hanya ketakutan, kebencian, dan kutukan. Nyawa menjadi tak berarti apa-apa. Di tengah situasi saling mendesak, membunuh sangat mudah sekali, seringan menghirup dan mengembuskan nafas.
Sampai Senin (6/1/2009) PBB memperkirakan 530 jiwa melayang akibat gempuran senjata, 90 darinya adalah anak-anak. Korban cedera dari yang ringan sampai hampir sekarat mencapai 2500 orang.
Israel tetap kukuh meski kecaman datang dari segala sudut dunia. Entah, kebenaran mac am apa yang lantas mereka elu-elukan. Padahal, perang adalah perang. Ia jarang sekali berbicara moral.
Gonjang-ganjinge zaman, entahlah. Kapan manusia enyah dari arogansi dan memutuskan untuk tidak mencintai kematian, entahlah. Kapan kita membentuk peradaban yang bersama-sama menepis rasa sakit.
Buah perang adalah luka. Perang mengajari kita untuk mengenang rasa sakit yang berkepanjangan. Mengajak kita membenci dengan "setulus hati". Mendidik untuk tak memberi maaf dan ampun. Akhirnya, kita dikutuk untuk berdamai dengan segala tragis dan nyinyir yang mengharu-biru.
Krisis kemanusiaan tak bisa dielakkan dari setiap peperangan. Sebab, tiadapun perang yang mengatasnamakan kemanusiaan. Jika pun ada, itu hanya alibi.
Palestina-Israel, kini berada dalam satu garis tipis: kehancuran. Yang akhirnya membawa peradaban pada dikotomi-dikotomi klasik. Timur Tengah-Barat, Islam-Yahudi, atau "kawan-lawan" yang baru, juga kotak-kotak anyar yang dipisah dengan sekat baja setebal dinding Great Wall of China.
Alasan untuk berperang pun mulai ambigu. Tiada keterdesakan, melainkan keterpaksaan dari ambisi-ambisi kita untuk mengurung yang lain dalam penjara derita.
***
"Kami tidak ingin menduduki Gaza kembali. Kami ingin serangan roket dari Hamas berhenti," kata Ehud Olmert, Perdana Menteri Israel. Itulah alasan Israel menghantam Jalur Gaza Palestina. Statemen itu juga mengukuhkan putusan Israel untuk tidak mengakhiri operasi militer.
Sementara, Hamas yang mewakili pertahanan Palestina dalam konflik berkepanjangan itu menuturkan hal sama. Ini mengingatkan kita, subjek perang tak ada yang mau dipersalahkan. Bagi mereka perang adalah suratan yang harus dijalankan.
"Kami ingin serangan Israel dihentikan dan pemblokadean dibuka," kata Osama Hemdan, delegasi Hamas.
Begitulah perang, alurnya sulit dimengerti. Satu alasan maknanya sama, untuk kedamaian, untuk menghentikan baku tembak, kesepakatan gencatan, membentuk MoU baru, dan sejenisnya. Tapi cara mereka tetap berperang.
Lihatlah, jantung Gaza City tercabik-cabik. Setelah delapan hari Israel mengimpit dengan serangan udara, invasi darat pun bergerak. Tank-tank menerabas tanah yang menurut Hamas "haram" untuk diinjak tentara Israel.
Jangan-jangan Tuhan ingin memberikan tontonan nyata kepada kita. Perang sedahsyat-dahsyatnya, sengeri-ngerinya, setragis-tragisnya, melebihi dramatisasi di film-film garapan Hollywood.
Entahlah.
Terlalu rumit untuk mengurai perang, yang sebenarnya kita mudah mengakhirinya. Sebab perang tak memerlukan ukuran benar-salah, tapi kalah-menang.
Artinya harus ada yang tunduk. Tunduk pada kekuasaan yang dibenci. Jika salah satu mereka kalah, baik Palestina maupun Israel, salah satu harus tunduk. Ya. Perang adalah subordinasi. Hanya berusaha menempatkan mana yang superior dan mana yang inferior. Tidak ada secuil pun membangun tiang kesetaraan.
Begitulah perang. Pada akhirnya manusia harus tunduk pada kekuatan yang dibenci, yang didendami mati-matian. Arogansi yang kalah-harus tunduk pada kesombongan yang menang. Atau, paling parah, ketulusan yang kalah harus menyembah pada arogansi yang menang. Taruhlah, seandainya Palestina harus kalah dalam membela rakyatnya, tanahnya, buminya. Haruslah tunduk ia pada arogansi Israel yang berpuluh-puluh tahun berpangkat ambisi dan kesombongan.
Begitulah perang. Pada akhirnya manusia harus tunduk pada kekuatan yang dibenci, yang didendami mati-matian. Bukan tunduk pada sesuatu yang pantas dihormati. 

Baca selengkapnya...

Senin, 2008 Desember 01


Perburuan di arena Grebeg Besar malam itu (Jumat/28/11/2008) terhenti oleh gerimis-gerimis tajam. Dan semua terkesiap bubar, enyah dari pemanjaan-pemanjaan grebeg. Namun masih sempat kupotret corak-corak Grebeg besar yang hanya hiburan. Dan anak-anak merasakan itu (mungkin) bagai surga semusim.
Lihatlah!!!


Baca selengkapnya...

Catatan Grebeg Besar



Saya tak ingin bercerita banyak tentang Grebeg Besar di Demak. Datang (!) dan saksikan (!) sendiri denyut Kota Wali hari-hari ini.

Saya hanya punya sepenggal-sepenggal catatan tapak kaki di malam itu (Jumat, 28/11/2008). Sepanjang kaki berjingkat dan mata menangkap muka Grebeg Besar.
• Grebeg Besar tenggelam dalam hiburan. (Kata orang, perayaan ini adalah pesta budaya. Ternyata itu konon. Yang ada cuma mereka dan apa-apa yang bisa diuangkan). Tiada tempat untuk kebudayaan yang oleh sebagian orang selalu disebut-sebut. (Grebeg tenggelam dalam komedi putar, kereta mainan, ombak banyu, tong setan, villa hantu, dan jajanan-jajanan konsumtif). Pesta budaya apa yang hendak dibuktikan di "Kota Titisan Sunan Kalijaga" ini? (Jika Wayang atau Gamelan tidak tampil?)
• Tidak ada tempat bagi sesuatu yang tak laku, termasuk budaya. Semua terukur dalam banderol-banderol yang kapitalis. (Jangan heran jika selama dua tahun terakhir Grebeg Besar diswastakan. Pemkab Demak hanya butuh uang dari grebeg, meski katanya ini warisan budaya yang patut dilestarikan.) Saya sadar, wayang kulit, gamelan, atau ketoprak, tak akan laku disodorkan generasi sekarang. Tapi haruskah mereka dikubang dalam mesin-mesin hiburan dan permainan semata. Harus ada wacana penanding untuk mereka.
• Atas nama budaya, Grebeg Besar juga membohongi budayanya sendiri. Sebab khittah grebeg ini lebih dari sekadar tontonan, hiburan, dagangan, jajanan, dan apapun kesenangan (itu). Tubuh-tubuh kapitalis telah mengorupsi grebeg. Betapa tidak! Tubuh-tubuh itu melakukan penggusuran besar-besaran pada budaya yang (di mulut mereka) katanya diagungkan.
Saksikanlah sendiri apa isi Grbeg Besar. Kekecewaan hanya untuk kamu-kamu yang mengindahkan budaya. Dan jika anda adalah pemuja hiburan, maka sudah lengkaplah rasa Grebeg Besar untukmu (yang di situ kamu dimanjakan). Wallahu a'lam.

Baca selengkapnya...

Senin, 2008 September 22

Tuhan, Sebuah Persangkaan


Membaca tulisanmu kali ini (Tuhan dan Kecemburuan), mas Aulia, membuat aku terhenyak. Tentu karena persoalan Tuhan (yang selalu dicari dan dipertanyakan).
Kuingat butiran wahyu yang kurang lebih: “Sesunguhnya Aku (Tuhan) ada dalam persangkaan (dzan) hamba-hamba-Ku”. Dengan itu, sesungguhnya Tuhan telah mendeklarasikan wujud-Nya yang multitafsir. Tiada “bayangan” imaji baku untuk-Nya. Sebab Dia pun tak mengkhabarkan bentuk (kecuali sifat-sifat yang Maha).

Lantas, manusia dengan pergulatannya membelai alam (yang membuahkan pengalaman/kearifan) mencoba mendeskripsikan bayangan Tuhan yang nampak dalam prasangkanya. Melalui alam, lingkungan, bahkan manusia sendiri, manusia dapat merekam sekelebat persangkaan akan Sang Hyang itu. Sebenarnya itu hanya metafora, sebab kata seuntai kata yang lahir dari kontemplasi dan pembahasaannya itu tak mewakili dzat-Nya.
Wajar jika muncul “persepsi” tentang Tuhan yang ganas; memangsa (metafora Amir Hamzah) paras kanak, yang bercahaya (aku Danarto) atau teguran dan sakit (pengalaman Zaskia dan Gito Rollies alm). Atau yang lembut, memesona (yang mungkin diimajinasikan manusia lain-lain). Adalah penguasan personalisasi akan kebertuhanannya sendiri.
Bahasa manusia takkan sanggup mendeskripsikan-Nya, sekalipun dalam yang paling sederhana. Sebab kekuatannya bahasa yang dipahami manusia adalah profan dan kefanaan, yang tak mampu bisandingkan dengan-Nya. Bahasa adalah makhluk, dan Dia adalah Khaliq.
Aku, kamu, mereka, punya persangkaan yang lain-lain tentang Tuhan. Dan sekali-kali, kita sering terusik untuk mempertanyakan, memperdebatkannya secara pribadi dalam pikiran dan hati (yang kerap berseberangan).
***
Soal cinta manusia (pada apapun), yang, untuk, dan karena: menuju jalan-Nya, adalah kemanisan berdimensi rabbaniyah. Ini sulit dimengerti, andai cinta yang dimaksud Cinta-Nya itu berobjek makhluk/alam. Cinta-Nya itu transenden, sedangkan cinta (pada apapun/selain-Nya) adalah kesebentar-bentaran, kekadang-kadangan, yang pasti kefanaan/kebersaatan.
Keberimanan kita, seperti kata Nabi, akan mendapatkan salah satu kemanisan apabila: mencintai sesuatu (makhluk) tak lebih dari Cinta yang dipersembahkan kepada-Nya. Atau, bahkan, cinta yang akan memuncakkan Cinta kita atas-Nya.
Ini juga pucuk dilema, antara mempertautkan cinta yang bersaat (kepada makhluk) dan cinta yang tak mewaktu/meruang (kegilaan fitri kepada-Nya). Keduanya terpaut dimensi yang berbeda. Cinta untuk makhluk lebih dekat pada inderawi/jasmani. Cinta kepada-Nya…….. [(terserah tafsirmu. aku takut mempersekutukan-Nya lantaran memperbandingkan cinta-Nya (yang sekaligus adalah dzat-Nya) dengan yang di luar-Nya).
***
Apapun premis dasar, atau kesimpulan yang kita imajinasikan sebagai “wujud-bayangan-Nya” takkan benar mewakili imaji-imaji orang lain. Tuhan, adalah “bayangan-bayangan” yang dihujam-hujamkan ke dalam diri kita, dan terserah bagaimana kita melafalkannya.

Baca selengkapnya...

Minggu, 2008 September 14

Berburu Komputer di Pameran



Akhir-akhir ini laptop menjadi barang yang paling diburu oleh para pengguna elektronik, khususnya komputer. Untuk bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat, para perusahaan berlomba-lomba mengeluarkan produk dengan harga dan fasilitas sesuai kelas-kelas konsumen. Baik untuk karyawan, pelajar, businessman, dan fasilitas kantor.
Tanggal 27-31 Agustus lalu digelar pameran komputer di Java Mall Semarang yang diprakarsai oleh Asosiasi Pengusaha Komputer (Apkomindo). Sejenis pameran elektronik (tapi spesifikasi komputer) seperti yang digelar rutinan di Java Mall atau DP Mall di bulan-bulan sebelumnya juga ramai didatangi pengunjung.

Untuk laptop, ada beberapa merk yang dipajang di counter-counter pameran. Misalnya ACER, Hp, COMPAQ, BENQ, LG, TOSHIBA, dan lain sebagainya. Barang lain berjenis hardware yang masih banyak dicari adalah flashdisk, MP3, MP4, MP5, dan kamera digital.
Printer juga diobral habis-habisan. Yang banyak diminati dari mesin cetak ini adalah spesifikasi foto. Taruhlah EPSON Stylus C 90 atau Canon iP 1880 yang paling laris. Apalagi layanan infus printer, menyedot banyak pengunjungn yang gemar dunia gambar/foto.
Di dalam pameran, pengunjung dapat membeli atau sekedar melihat-lihat laptop, desktop, dan perangkat keras yang diinginkan. Banyak tawaran merk serta harga perangkat keras yang bervariasi sesuai tuingkat kebutuhan.
Soal harga, di pameran elektronik seperti ini relatif lebih miring daripada harga di toko-toko elektronik. Tapi, untuk mendapatkan harga yang murah, pengunjung harus membandingkan harga barang sejenis dari satu counter ke counter yang lain.
Pertama, lihat semua barang-barang yang ada dari satu counter ke counter lain. Perhatikan juga harganya, dan mulai bandingkan. Usahakan semua tempat dapat kita jangkau secara langsung sambil mengambil brosur-brosur produk dan harga barang di masing-masing counter.
Kedua, tentukan barang yang ingin anda beli. Jika sudah mantap, mulai cari tempat yang paling murah menjual barang tersebut.
Ketiga, jangan mudah tergiur bonus seperti kaos atau tas dalam pembelian sebuah produk. Karena, seringkali dibubuhi gratisan malah harganya lebih mahal. Selisih harga dengan produk yang tanpa bonus biasanya senilai harga produk free-nya. [Musyafak]

Baca selengkapnya...

Menjaga Sakralitas Pernikahan



Peradaban manusia terkini kian tercerabut dari sakralitas agama, sekaligus lupa akan kearifan budaya. Tak kecuali dalam pernikahan, kesakralan dan kekeramatannya diabaikan. Tak heran jika kini banyak orang kawin-cerai hingga berulang-ulang.
Sebenarnya jawa mengajarkan bahwa pernikahan adalah persoalan kehidupan yang serius, tak boleh diremehtemehkan. Makanya Jawa tak sekadar mengajarkan ikrar dan janji, atau hanya ijab dan qabul. Tapi ritual perkawinan yang "disucikan" dalam tradisi jawa lengkap dengan ritual sarat nilai dan makna.

Misalnya, pingitan. Adalah tradisi sebelum pasangan dinikahkan, yaitu memisahkan keduanya: dilarang bertemu secara fisik. Pesan yang dikandung ialah menumbuhkan perasaan rindu dan saling menunggu. Sebab saat-saat inilah kedua calon pasangan hidup ini saling berharap dan berdoa sembari menggunting waktu: butuh kesetiaan dalam penantian, tak ubahnya pernikahan.
Ritual pernikahan ala Jawa banyak memberikan pelajaran, setidaknya sebagai pegangan, kenangan, dan pengingat, bahwa suami-istri telah menyepakatkan diri sebagai pasangan yang harmonis di muka umum. Representasi dari itu adalah tradisi "menginjak telur".
Lelaki menginjak telur, kemudian perempuan membasuh kakinya dengan air kembang. Pertanda bahwa istri, juga suami, adalah jalinan untuk saling mengerti, alias setubuh. Jika satu kotor, satunya lagi harus membersihkan. Jika satu luka, maka satunya lagi harus jadi obat.
Selain tradisi di atas, masih banyak ritual yang mengiringi upacara pernikahan di Jawa. Sayangnya, masyarakat modern telah melenyapkan itu semua, dan menggantinya dengan budaya lain yang dalam pandangan global lebih bersifat bermewah-mewahan.
Di era sekarang ini, di mana butuh kesetiaan lebih untuk menjadi "setubuh" dalam ikatan pernikahan, upacara-upcara seperti perlu dijalankan dan dielstarikan. Sebab ritual itu sejatinya adalah pengingat, dan perangkum harapan dan cita-cita awal kala dua sejoli berniat menjalani kehidupan rumah tangga. Ini adalah salah satu upaya menjaga sakralitas pernikahan. [Musyafak]

Baca selengkapnya...